Review; Dia Adalah Dilanku 1990

Hari Selasa kali ini cukup hectic dan bikin kepala cenat-cenut. Cuma setelah mbaca Review Suka-Sukanya kak Teppy, jadi mesam-mesem gak jelas dan jadi pengen ikut angkat bicara perihal si Dilan ini.
Sebenarnya sudah setahun yang lalu saya kenal dengan sosok Dilan. Yapz! Saya mengenalnya dari Novel berjudul Dia Adalah Dilanku 1990, percis dengan judul filmnya saat ini. Ketika saya tahu novel Dilan ini diangkat menjadi sebuat film layar lebar dan tokoh utama (Dilan) yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan saya memutuskan untuk enggan menonton film ini. Karena saya pikir, saya tidak ingin merusak Dilan yang ada di dalam imajinasi saya.

Setelah Hari Minggu kemarin yang penuh dengan drama, perdebatan dan bujuk rayu dari Adik dan salah satu seorang sahabat saya yang ngebet banget pengen tau manisnya rayuan Dilan ke Milea akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk mereka pergi menonton dengan ekspektasi si Iqbaal Ramadhan yang memerankan sosok Dilan itu terlalu kaku, dan tidak punya tampang nakal sama sekali. Saya agak ragu dan enggan berharap banyak dari film ini, awalnya.

Tapi, ternyata …

OMAIGAT!!!

Saya dibuat cekikikan dan senyam-senyum sendiri melihat sosok Dilan yang ternyata diluar ekspektasi saya. Dilan dalam film ini terlihat cukup nakal, tapi manis, tapi garing, tapi menyebalkan. Haha

OKE BANYAK TAPINYA.

Kesan pertama saya setelah menonton film ini adalah “Saya ingin menonton lagi, lagi, dan lagi.”.

Ayah (Pidi Baiq) sang penulis Dia adalah Dilanku 1990 berhasil mematahkan pemikiran saya tentang Iqbaal yang mendapatkan peran sebagai Dilan. Ternyata Ayah memang tidak salah memilih orang, sebagai pemeran Dilan. Terima kasih karena Ayah mampu menghidupkan karakter Dilan yang sesungguhnya, Dilan yang saya mau, Dilan yang kami semua mau. Terlebih alur cerita dalam film ini sama sekali tidak berubah, masih sama percis dengan apa yang Ayah tulis dalam novel, hal itu yang membuat film ini hidup, dan dicintai banyak orang.

Semua manis. Mulai dari cara Dilan kenalan pertama sama Milea, cara dia sok-sok ngeramal lalu ramalannya salah. Cara dia datang ke rumah Milea di hari Minggu hanya untuk ngasih undangan absurd tapi pamitannya gemaz: “Assalamualaikum, jangan?” 

Cara dia ngikut Milea naik angkot yang penuh modus tapi berujung bikinnneleh karena setelah Milea turun dia ngomong: “Tadi cuma nganter. Takut ada yang gangguin.”

BEKLAH.

Disaat saya mulai lupa seperti apa rasanya diperlakukan manis oleh pasangan, rasanya saya iri kepada Milea. (Duh, please inget umur).

Teruntuk Iqbaal, Dilan-nya Milea yang saat ini akan banyak diperebutkan dan dibicarakan oleh setiap kalangan, yang saat ini akan banyak diinginkan dan dipuja setiap orang, terima kasih karena telah berhasil untuk menjadi Dilan yang kami mau, terima kasih telah menjadi Dilan yang sesuai imajinasi dan keinginan kami. Terima kasih, karena tidak sedikitpun mengecewakan kami, terima kasih karena telah menghidupkan Dilan dalam kehidupan nyata kami.
Dilan, kamu telah berhasil menyihir kami untuk terus dan terus menonton film ini, kamu berhasil membuat kami terpesona, bukan hanya sekali, namun berkali-kali. 

Ah, Iqbaal, ternyata kamu memang sulit untuk ditebak, ternyata benar, kamu memanglah Dilan yang selama ini kami cari, kamu adalah Dilan yang selama ini kami inginkan dalam kehidupan nyata kami. 

Terima kasih juga Iqbaal, karena telah berhasil untuk mematahkan argumen orang-orang yang selalu saja bilang “Kenapa Harus Iqbaal?”, terima kasih karena telah membuktikan kepada kami semua, bahwa kamu memang pantas untuk menjadi Dilan, kamu berhasil, sekali lagi, selamat Dilan. 🙂

Ayah memang tidak pernah salah untuk memilih orang, Ayah tidak pernah salah dalam mengambil keputusan, Ayah benar, Iqbal adalah Dilan, seseorang dengan senyum manis dan pandangan mata yang menawan. Baiklah Ayah, saya mengaku kalah, Dilan sangat memesona, saya tidak bisa. Huh lagi-lagi Ayah membuat saya memikirkan Dilan. 

Jakarta, 06 Februari 2018 di Kantor

Iklan

2 Replies to “Review; Dia Adalah Dilanku 1990”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s